Bagaikan perahu di atas samudera

Saya ke Medan baru tiga kali. Dua perjalanan terakhir ditempuh dengan pesawat, sehingga cepat sampai di Medan. Yaitu waktu ikut Kavli Meeting 2014, sedangkan yang kedua waktu tugas sebagai peneliti bersama tim puslitbang Mabes Polri. Tetapi perjalanan pertama ditempuh pakai bis, dan justru jadi kesan tak terlupakan.

Pertama kali saya ke Medan adalah 25 tahun yang lalu, di bulan Juni tahun 1996. Saat itu saya mengambil cuti, dan menempuh perjalanan sekitar 3-4 hari dari Jakarta menuju Medan, memakai bis ALS (Antar Lintas Sumatera). Perjalanan ditempuh melewati lika-liku pegunungan di Sumatera, takjub melihat rumah adat yang berbeda dengan di Jawa, tiap hari mandi di musholla di pagi hari di tengah perjalanan, dan akhirnya setelah sampai Medan, berganti angkot dan sampai ke surau Qutubul Amin di Sei Batugingging. Perjalanan yang melelahkan, tapi tak terkira rasa bahagia saya ketika akhirnya berhasil sowan ke rumah Guru saya di Medan.

Dengan bersarung, berpeci, menetap selama 10 hari di surau. Merasakan indahnya sholat berjamaah, berzikir pagi siang sore malam bersama jamaah yang lain, dan bersilaturahmi dengan teman-teman. Kesempatan emas tak saya lewatkan. Saya tulis surat kepada Guru saya. Saya mohon doa restu Beliau, agar dapat melanjutkan sekolah lagi ke Jepang. Tak berapa lama, turun jawaban dari Beliau. Alhamdulillah, niat saya direstui dan didoakan. Perjalanan pulang ke Jakarta pun dilalui sama-sama 3 atau 4 hari, dari bis, feri, bis lagi sampai akhirnya tiba di Jakarta.

Sebenarnya tahun 96 itu adalah masa-masa sulit dalam hidup saya, di tengah terpaan cobaan yang sangat susah, terpaksa bolak balik ke pengadilan. Dengan doa restu Beliau, alhamdulillah satu demi satu masalah terselesaikan. Tak berapa lama, saya mendapat kabar bahwa saya terpilih dalam 9 dari sekitar 70 peserta yang ikut ujian beasiswa Monbukagakusho (yang dari LPNK, bukan U-2-U). Atas berkat doa itu juga, akhirnya setelah setahun di Jepang saya bertemu dengan calon istri.

Kalau direnungkan, banyak pelajaran yang saya peroleh, banyak renungan saya yang terjawab. Banyak hal yang kadang susah difahami dalam hidup, tapi dengan istiqomah, Insya Allah bisa dilalui dengan baik. Guru kami tercinta telah lama wafat, dua puluh tahun yang lalu.

Hidup ini kadang bagaikan perahu mengarungi samudera. Adakalanya terlihat cerah, adakalanya badai gelap menerpa, dan kita kehilangan arah. Mungkin adakalanya kita bertanya-tanya, akan selamatkah kita dari badai dahsyat yang menerpa ini. Selama kita berpegang erat pada perahu, yang mendapat nahkoda yang piawai, Insya Allah bisa dilewati dengan baik. Selama berpegang baik-baik pada Kitabullah dan Sunnah Rasul, dengan bimbingan Guru yang baik, Insya Allah hidup kita selamat dunia akhirat.

Tentang Anto Satriyo Nugroho

My name is Anto Satriyo Nugroho. I am working as research scientist at Center for Information & Communication Technology, Agency for the Assessment & Application of Technology (PTIK-BPPT : Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). I obtained my doctoral degree (Dr.Eng) from Nagoya Institute of Technology, Japan in 2003. My office is located in Serpong, Tangerang Selatan City. My research is on pattern recognition and image processing with applied field of interests on biometrics identification & development of computer aided diagnosis for Malaria. Should you want to know further information on my academic works, please visit my professional site at http://asnugroho.net
Pos ini dipublikasikan di coffee morning. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s