Tertangkapnya Lao Rongzhi dengan memanfaatkan pengenalan wajah

Teman saya menshare berita yang menarik, antara lain

Artikel di atas menarik dikaji dari sudut biometrics. Face recognition memiliki beberapa tantangan yang dalam kasus di atas, dilakukan upaya mengubah identitas lewat: (1) operasi kecantikan/plastik (2) proses penuaan (ageing) (3) beragamnya pose wajah (frontal, semi frontal, semi profile, profile, dan pose yang lain). Tapi lewat pemantauan terhadap 80 titik unik dalam wajah yang sepertinya tidak dapat hilang secara sempurna oleh ketiga proses di atas (operasi, ageing dan beragamnya pose wajah), sehingga wajah Fa-Lao bisa diidentifikasi lewat CCTV dan ternyata match dengan foto-nya tahun 1996 (23 tahun sebelumnya).

Saya mencari foto waktu usia 21 tahun dan foto tahun 2019 dari situs berikut
1996: https://nextshark.com/woman-who-murdered-7-people-arrested-after-20-years-on-the-run/
2019 : https://wikibiouk.com/wp-content/uploads/2020/12/Lao-Rongzhi.png

Saya crop kedua foto tersebut dan membandingkan keduanya. Sayang kualitas foto 1996 tidak cukup baik sehingga tidak mudah dianalisa dengan mata telanjang. Kepolisian tentu saja memiliki foto dengan kualitas yang jauh lebih baik. Perkiraan saya, setidaknya Inter Pupillary Distance (IPD) harus lebih dari 75 piksel agar resolusi citranya cukup.

Tulisan Pak Dahlan Iskan menarik, tetapi saya tidak setuju dengan dengan pendapat beliau di bagian akhir “Dengan teknologi ini era sidik jari sudah praktis berakhir. Tidak ada gunanya lagi cap jempol. Kamera, dengan kecerdasan buatan, menggantikannya”. Setiap modality punya karakteristik tersendiri, dan saling melengkapi. Pada contoh Lao Rongzhi, pembuktian terakhir dilakukan dengan uji DNA. Di situ multimodal biometrics sangat berperan.

Saya masih mencari, maksud dari “80 titik” yang di tulisan Pak Dahlan Iskan. Apakah maksudnya landmark point ? Kalau landmark point yang saya tahu 68 titik. Pengukuran titik landmark merupakan bagian dari studi antropometrik untuk mengkarakterisasikan wajah berdasarkan titik-titik landmark tersebut. Titik Landmark dipakai dalam forensik untuk mengenali wajah, tapi memiliki beberapa kelemahan yang diakibatkan oleh kurangnya kemampuan untuk membedakan individu, apalagi jika kualitas citra wajahnya kurang baik. Landmark point ini dibahas dalam RSNI ISO/IEC 19794-5 Teknologi Informasi – Format Pertukaran Data Biometrik Bagian 5: Data Citra Wajah, yang telah selesai jajak pendapat untuk ditetapkan sebagai SNI.

Tentang Anto Satriyo Nugroho

My name is Anto Satriyo Nugroho. I am working as research scientist at Center for Information & Communication Technology, Agency for the Assessment & Application of Technology (PTIK-BPPT : Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). I obtained my doctoral degree (Dr.Eng) from Nagoya Institute of Technology, Japan in 2003. My office is located in Serpong, Tangerang Selatan City. My research is on pattern recognition and image processing with applied field of interests on biometrics identification & development of computer aided diagnosis for Malaria. Should you want to know further information on my academic works, please visit my professional site at http://asnugroho.net
Pos ini dipublikasikan di research. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s