Berawal dari selembar foto di internet

Hari ini saya dan beberapa teman, bertemu dengan Tei-san, seorang kawan sekelas di Tokyo waktu kami belajar bahasa Jepang sebelum masuk perguruan tinggi. Pertemuan ini adalah pertama kali, sejak kami lulus bahasa Jepang, 25 tahun yang lalu.

Setelah sekolah di Jepang, Tei-san tinggal dan mengelola bisnisnya di Taiwan. Suatu hari dia menemukan foto kelas kami yang saya upload di internet, kalau tidak facebook ya blog ini. Tei terkejut dan dia terbayang masa-masa susah payah yang lalui bersama, selama belajar  bahasa Jepang di Kokusai Gakuyukai Nihonggo Gakko, di Tokyo. Pada foto ini, Tei san berdiri di belakang, nomer 2 dari kiri, memakai baju garis-garis horisontal. Saya jongkok di paling depan, paling kanan.

13310465_10154144233394477_842125224332209895_n

Kemudian dia berusaha mencari pemilik foto tersebut. Dengan bantuan teman Indonesianya yang di Taiwan, akhirnya dia berhasil menemukan facebook saya, dan mencoba kontak ke saya. Begitu berhasil kontak dengan saya, akhirnya tersambung dengan teman-teman sekelasnya yang ada di foto di atas. Sayang Yudi Chandra tidak berhasil kami kontak. (Yud…kalau suatu saat lihat tulisan ini, kontak ke kami ya…)

Screen Shot 2016-08-17 at 9.24.47 PM

Hari ini khusus dia ke Indonesia, untuk reuni dan betemu dengan teman-temannya setelah 25 tahun terpisah. Demikian dia ceritakan dengan mata berkaca-kaca dan suara sembab, karena terharu.  Ini kali pertama Tei-san datang ke Indonesia. Hari ini yg dapat reunian dari kelas kami selain Tei-san adalah Andi Utama, Nurul Taufiqur Rahman, Wahyo Sindhu, mas Insan Fathir dan saya. Kami berjalan-jalan ke Taman Mini, kemudian ke Ancol. Sayang jalanan macet, sehingga akhirnya diputuskan kembali ke hotel dan makan malam bersama. Semoga ini bukan yang terakhir.  Silaturahmi itu memang indah.

Foto-foto :

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di gado-gado, memory | Meninggalkan komentar

Fortasi 2016

Minggu pagi yang mendung dan diawali dengan hujan rintik-rintik. Pagi ini saya dan emak altik berbagi tugas. Emak Altik mengantar Alya mengikuti ujian piano YMI, sedangkan saya mengantar Tika mengikuti lomba paduan suara  bersama teman-temannya di kelas VII. Paduan suara tersebut adalah salah satu jenis lomba di Forum Ta’aruf Siswa (Fortasi) 2016, PD IPM Kota Surakarta, yang tahun ini diselenggarakan di SMK Muhammadiyah 1 Surakarta. Selain lomba paduan suara, ada juga lomba Cerdas Cermat, Mading, Qiroah dan berbagai lomba yang lain. Beberapa foto yang sempat saya ambil saya upload di sini. Saat mengikuti paduan suara, sebenarnya saya ingin mengambil video dari depan. Sayang yang boleh masuk hanya juri dan peserta lomba. Satu-satunya sudut pengambilan, yang memungkinkan hanya dari belakang, sehingga videonya mungkin kurang memuaskan.  IMG_4564

 

 

 

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Deskripsi materi untuk pameran Ritech Expo

  1. Otentikasi pasien berbasis sidik jari untuk sistem layanan kesehatan

Biometrics adalah salah satu teknologi yang dewasa ini makin meningkat intensitas pemanfaatan maupun penelitiannya. Teknologi biometrics didefinisikan metode untuk mengenali identitas seseorang secara otomatis dari ciri fisiologis maupun perilaku. Berbagai ciri fisiologis yang dapat dipakai antara lain sidik jari, selaput pelangi mata, wajah, DNA. Sebagai alat otentikasi, biometrics memiliki kelebihan. Antara lain tidak dapat lupa, berbeda dengan metode otentikasi yang mengandalkan ingatan akan password. Tidak dapat dicuri atau hilang, berbeda dengan metode otentikasi yang memakai kunci atau kartu. Kelebihan ini yang dimanfaatkan untuk memperbaiki fitur otentikasi pasien pada sistem layanan kesehatan. Penelitian ini merupakan kerjasama lab. e-services dan lab. intelligent computing dengan Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi (PTIK) dengan Pemda Pekalongan. Biometrics sidik jari dipakai untuk melakukan otentikasi calon pasien yang datang ke puskesmas untuk mendapatkan layanan kesehatan. Otentikasi paisen dilakukan lewat dua jalan : memakai Perangkat Pembaca KTP-el dan memakai sidik jari. Cara otentikasi pertama dilakukan bagi calon pasien yang telah memiliki KTP-el. KTP-el pasien ditempelkan ke pemindai Perangkat Pembaca KTP-el untuk proses mutual authentication dilanjutkan dengan pemadanan sidik jarinya dengan data sidik jari yang terekam pada chip KTP-el. Apabila pemadanan berhasil, data calon pasien akan diretrieve dari database, sehingga proses pendaftaran berjalan cepat dan efisien. Tetapi, tidak semua calon pasien memiliki KTP-el. Bagi mereka yang belum memiliki KTP-el, otentikasi dilakukan memakai sidik jari. Jari pasien dipindai dan dipadankan dengan data sidik jari yang terekam pada database puskesmas. Hal ini juga membantu penanganan pasien yang dalam kondisi gawat atau tidak sadarkan diri. Jika pasien telah terekam di database, data pasien dapat ditampilkan dengan cepat, sehingga proses pendaftaran dan pengisian data menjadi jauh lebih mudah, dan pasien segera mendapat penanganan. Prototipe otentikasi yang ditampilkan pameran adalah modul otentikasi calon pasien berbasis sidik jari, yang dapat dijalankan pada berbagai mode. Mulai dari 1:1 (verifikasi) sampai 1:N (identifikasi). Pemadanan 1:1 dilakukan jika calon pasien dapat menyerahkan data penduduk lengkap (NIK, nama, tanggal lahir, dan berbagai informasi lain), sehingga tujuan pemadanan hanya memastikan bahwa penduduk yang datang adalah yang memiliki identitas yang di-klaim. Dalam kondisi pasien khusus seperti pingsan, meninggal, dan tidak membawa kartu identitas, maka pemadanan diubah ke mode yang paling tinggi kompleksitasnya, 1:N matching atau yang biasa disebut identifikasi. Data sidik jari calon pasien akan dipadankan dengan seluruh data biometrics yang tersimpan di database puskemas. Identitas calon pasien akan ditemukan, apabila sebelumnya telah melakukan perekaman data biometrics di puskesmas tersebut.

2. Pengembangan Sistem Cerdas Pendeteksi Malaria dari Citra Mikroskopis Apusan Tebal Darah

Malaria merupakan salah satu penyakit tropis yang hingga kini masih cukup banyak ditemui di Indonesia, khususnya Indonesia bagian Timur. Di Indonesia, penderita Malaria diperkirakan berkisar 15 juta, dengan angka kematian 30 ribu per tahun. Data Annual Malaria Incidence menunjukkan bahwa Papua dan Nusa Tenggara Timur menempati peringkat atas dengan tingkat keterjangkitan 50-200 pada tahun 2006. Penyakit Malaria disebabkan oleh infeksi plasmodia dalam darah. Parasit ini terdiri dari 5 spesies: Plasmodium vivax, Plasmodium falciparum, Plasmodium ovale, Plasmodium malariae dan Plasmodium knowlesi.

Kementrian Kesehatan dan Kementrian Kesejahteraan Sosial Republik Indonesia melaporkan bahwa sejak tahun 1997, angka peningkatan kasus mencapai hingga 200% untuk wilayah Jawa-Bali, dan 56.25% untuk wilayah di luar Jawa-Bali. Diperkirakan jumlah penderita Malaria di Indonesia sekitar 15 juta, dengan angka kematian 30 ribu per tahun. Angka ini mengindikasikan bahwa Malaria merupakan salah satu penyakit tropis di Indonesia yang harus mendapatkan penanganan serius dan cepat. Pogram eliminasi Malaria di Indonesia dicanangkan oleh Kementerian Kesehatan, sejak tahun 2010 sampai 2030 (SKNo.293/MENKES/SK/IV/2009). Eliminasi dilakukan secara bertahap. Eliminasi di DKI, Bali, Batam ditargetkan selesai pada 2010, Jawa dan Aceh pada 2015, Sumatra, NTB, Kalimantan, Sulawesi ditargetkan selesai pada 2020, sedangkan eliminasi di Papua, West Papua, Maluku, NTT, dan Maluku Utara ditargetkan selesai pada 2030.

Penyakit Malaria diindikasikan dari berbagai gejala seperti menggigil, demam tinggi, sakit kepala, anemia dan pembesaran Limfa. Diagnosis dini merupakan langkah yang sangat penting agar pasien yang diindikasikan mengidap Malaria dapat ditangani dengan cepat. Pemeriksaan dengan mikroskop telah diterima sebagai gold standard dalam diagnosis Malaria. Diagnosis tersebut dilakukan dengan observasi apusan darah (peripheral blood smears) di bawah lensa objective mikroskop, untuk menemukan keberadaan parasit pada sel darah merah. Tetapi akurasi diagnosis ini sangat tergantung pada pengalaman dan keahlian microscopist (ahli yang melakukan diagnosis lewat mikroskop). Terlebih lagi, dalam kegiatan Mass Blood Survey, beban microscopist sangat berat, karena slide yang diperiksa sangat banyak (ratusan), sedangkan untuk tiap slide harus diteliti dengan seksama dengan mikroskop, sel demi sel darah merah pada berbagai bidang pandang (titik pengamatan) pada slide yang diamati, untuk memastikan tidak adanya parasit plasmodia pada darah pasien. Sangat sulit untuk mendapatkan ahli yang mampu membaca citra mikroskopis apusan darah dan melakukan identifikasi pasien.

Prototipe yang ditampilkan pada pameran adalah hasil pengembangan Computer Aided Diagnosis di Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi BPPT. Dengan sistem ini diharapkan akan mengurangi beban microscopist, dan mampu membuat proses identifikasi di lapangan lebih cepat dan akurat. Sistem yang dikembangkan awalnya memakai apusan darah tipis, yang secara visual lebih informatif untuk memastikan keberadaan parasit pada sel darah merah. Akan tetapi tingkat densitas darah pada apusan tipis jauh lebih rendah dibandingkan apusan tebal, sehingga kemungkinan untuk menemukan parasit jauh lebih kecil dibandingkan dengan apusan darah tebal. Hal ini mengakibatkan proses pencarian memerlukan waktu yang cukup lama, dengan memindahkan titik observasi pada slide ke posisi lain untuk mendapatkan bidang pandang yang lain. Hal inilah yang ingin diperbaiki dalam penelitian ini, yaitu dengan memanfaatkan apusan darah tebal. Berbeda dengan apusan darah tipis yang hanya satu lapis saja, apusan darah tebal merupakan gumpalan darah yang lebih tebal dan berlapis-lapis. Sehingga pada luas bidang pandang yang sama, kemungkinan ditemukanya parasit jauh lebih besar dan adakalanya ratusan kali dibandingkan pada apusan tipis. Dengan mengolah data yang kandungan informasinya lebih besar, diharapkan proses deteksi parasit pada pasien dapat berlangsung lebih cepat dan akurat.
Penelitian ini mendapatkan pendanaan dari Kementrian Riset dan Teknologi melalui skema insentif riset SINas (RT-2011-2013, RT-2012-121, RT-2013-1098, RT-2014-0685 and RT-2015-0455)

Related videos:

Dipublikasi di research | Meninggalkan komentar