Best Presenter Award

Hari Sabtu yang lalu saya mempresentasikan penelitian mahasiswa saya, Tommy Winarta, dalam tugas akhir di Swiss German University tahun 2017. Judul papernya “Morpho-geometrical feature extraction of thin blood smear microphotograph for Malaria plasmodia species and life stage determination”. Ternyata mendapat penghargaan sebagai presenter terbaik untuk Sesi-7: Bioinformatics. Alhamdulillah. Semoga bermanfaat.

Dipublikasi di research | Meninggalkan komentar

Satyalancana Karya Satya

Hari ini saya mendapat Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No.84/TK/Tahun 2020 tentang Penganugerahan Tanda Kehormatan Satyalancana Karya Satya atas pengabdian 30 tahun. Suatu hal yang saya syukuri, bisa mengabdi lebih dari usia saya saat ini (50 tahun). Semoga sisa usia saya bisa bermanfaat bagi kemanusiaan. Amiin.

Dipublikasi di catatan kerja | Meninggalkan komentar

Kuliah Image Processing : sebuah catatan

Catatan 14 Oktober 2016

Kuliah Image Processing selalu ada sesi praktikumnya. Saya minta siswa membuat implementasi tiap algoritma yang dijelaskan. Hampir seluruh tugas harus dikerjakan dari scratch (C, Java dsb), dan tidak boleh memakai Open CV, Matlab dsb. agar siswa belajar memahami algoritmanya, tidak asal pakai tanpa melihat implementasi di dalamnya. Untuk melakukan penilaian kalau harus melihat source code dan melototin satu demi satu baris akan makan waktu. Cara yang saya tempuh adalah dg meminta siswa untuk memperlihatkan programnya ke saya, bisa mendemonstrasikan hasilnya, dilanjutkan dg diskusi seputar code yang dibuat. Ini mirip kalau mereka mengikuti OFSE (Oral Final Study Examination) programming. Intinya dia harus bisa meyakinkan saya, kalau dia memahami benar program yang dibuatnya, walaupun dalam menulis program itu boleh saja diskusi dengan temannya. Cara ini mungkin bisa saya lakukan, karena saat ini saya mengajar di small class. Satu kelas hanya sekitar 15-20 orang shg kami tidak memerlukan asisten.

penilaian

Setiap nilai yg saya berikan, saya jelaskan ke siswa, bagaimana nilai itu bisa diperoleh agar ada transparansi. Dengan transparansi itu, mereka faham ketika nilainya kurang, upaya apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki nilainya. Nilai bukan diberikan dengan “cap cip cup kembang kuncup”, tapi harus dengan kriteria yang bisa dipertanggungjawabkan. Baik kepada siswa, kepada orang tuanya, maupun ke nurani kita sebagai pendidik.

Di Swiss German University (SGU) ada kesempatan bagi siswa yang tidak puas dengan penilaian dosennya, diperbolehkan appeal secara resmi. Jadi saya berusaha hati-hati sejauh mungkin. Untuk appeal ujian lisan (OFSE), semua komunikasi saat ujian direkam, sebagai evidence. Kami dituntut hati-hati dan profesional dalam menilai. Terutama kalau nilainya kurang, saya akan lebih hati-hati dan teliti dalam mencatat.

Di kelas, saat membagikan nilai kuis, saya minta ke siswa untuk mengoreksi nilai yang saya berikan. Saya jelaskan, kalau saya sudah berusaha sejauh mungkin teliti dan fair dalam menilai. Tapi kalau ada yg salah dengan penilaian saya, siswa boleh bertanya dan debat dengan saya. Justru saya minta mereka untuk berani berargumen dengan saya sbg dosennya, tentunya dg cara yg baik. Tapi ada klausa tambahan : “Kalau ada yang salah koreksi, dan ternyata nilainya harus naik, saya akan mengoreksi penilaian saya. Dan….walau saya tidak mencari-cari kesalahan ya….kalau ternyata ada yang salah, tapi saya benarkan, sehingga nilai harus dikurangi, ….kita perjanjian ya…gentleman agreement….nilai kalian akan saya kurangi juga“. 🙂

Dipublikasi di kuliah | Meninggalkan komentar