Skripsi itu bukan untuk sekedar meluluskan siswa

17352231_10155055785814477_5980186499056436383_nSkripsi itu bukan sekedar untuk meluluskan mahasiswa, tapi sebagai bagian dari proses penelitian yang dilakukan seorang professor untuk memberikan kontribusi kepada ilmu pengetahuan. Professor pun ikut belajar dari tema yang dikerjakan mahasiswanya. Nggak ada kamusnya, mencari tema ecek-ecek agar mudah lulus.
Di Jepang, bimbingan skripsi dilakukan secara rutin setiap minggu. Tiap mhsw bergiliran menyampaikan presentasi dalam seminar mingguan, dan juga mendengarkan paparan riset mahasiswa yang lain. Sayang, tipe seperti ini sulit dilakukan di Indonesia. Di tengah berbagai keterbatasan, seminggu sekali saya wajibkan mahasiswa bimbingan saya untuk melaporkan progres penelitian-nya. Adakalanya bimbingan skripsi dilakukan secara remote, memakai google hangout jika mhsw berhalangan.

Dipublikasi di kuliah, research | Meninggalkan komentar

Percobaan mencari identitas penduduk memakai sidik jari dan iris

Video di atas kami buat saat akan menerima tim DeskCyber Polhukam ke Lab. Inovasi TIK. (https://asnugroho.wordpress.com/2015/01/15/kunjungan-tim-deskcyber-polhukam-ke-lab-inovasi-tik/)

Dalam video ini kami presentasikan, bagaimana menemukan identitas seorang penduduk memakai pemadanan 1:N memakai biometrics sidik jari, dan iris. Jari (atau iris mata) penduduk dipindai, kemudian dilakukan lewat jaringan internet dilakukan pencocokan ke database biometrics penduduk Indonesia di Kementrian Dalam Negeri. Alat pemadanan 1:N pada video tersebut tersebut kami pinjam dari Kementrian Dalam Negeri.

Dengan alur yang sama, Polri memanfaatkan database biometrics penduduk dengan memakai peralatan mereka (MAMBIS : Mobile Automated Multibiometrics Identification System), untuk menemukan identitas jenazah korban Air Asia, Trigana Air, maupun mayat tak dikenal dalam berbagai kasus kriminal,  dengan memindai sidik jari mayat tersebut. Semua transaksi ini tidak melalui kartu KTP-elektronik, tapi hit langsung ke database kependudukan yg telah dibersihkan dengan biometrics sebagai hasil KTP-el.

Percobaan ini memperlihatkan bahwa hasil program KTP-el bukan hanya kartu KTP-el yang terbuat dari bahan PET/PETG, melainkan juga database kependudukan yang NIK nya sudah dibersihkan lewat pemadanan biometrics, sbg basis layanan publik.

 

Dipublikasi di research | Meninggalkan komentar

Output program KTP-el bukan hanya kartu KTP-el

Output program KTP-elektronik bukan hanya kartu KTP-el, tetapi juga database kependudukan yang sudah dibersihkan dan akurat. Dalam konteksnya dengan Indonesia, hal ini sangat penting, karena penduduk Indonesia “produktif” dan “kreatif”. Produktif maksudnya jumlah penduduk kita luar biasa besar di dunia, dan “kreatif” dalam artian negatif, yaitu banyak upaya memalsukan kartu identitas penduduk untuk mendapatkan hak/layanan secara ilegal atau terkait dengan tindakan kriminal. Bahkan dalam pilkada DKI yang lalu isu KTP palsu ini sempat mencuat dan jadi perhatian publik.

Produk pertama yaitu database yang akurat ini basis untuk memberikan layanan publik ke rakyat secara efektif. Upaya membersihkan database tersebut memakai teknologi biometrics sidik jari, iris mata (awas : iris bukan retina mata) yang dipakai untuk penunggalan. Perekaman yang dilakukan seorang penduduk lebih dari satu kali akan diberikan tanda, dan yang diterbitkan hanya satu identitias saja. Pemanfaatan database kependudukan itu antara lain untuk penetapan DPT [1], identifikasi jenazah tak dikenal maupun jenazah korban kecelakaan pesawat Air Asia, Trigana Air dll lewat alat MAMBIS (Mobile Automated Multimodal Biometrics Identification System) di Kepolisian [2], BPJS [3], pembukaan rekening di bank [4] dsb. Pemanfaatan untuk kepolisian lewat pemadanan 1-N (N: ratusan juta records) memakai alat MAMBIS sangat membantu pihak kepolisian mengidentifikasi dengan cepat dari sidik jari korban dalam hitungan detik atau menit. Bandingkan dengan identifikasi memakai DNA yang memerlukan waktu lebih lama, biaya yg mahal, dan memerlukan sampel DNA dari keluarga. Semua manfaat diatas diperoleh TANPA memakai kartu KTP-el, melainkan akses langsung ke Database Kependudukan.

Adapun produk berikutnya yaitu kartu KTP-el, dimanfaatkan untuk verifikasi yang akan menerima layanan publik, yaitu untuk memastikan layanan publik itu diberikan kepada penduduk yang bersangkutan. Berbeda dengan akses 1-N matching sebagaimana produk pertama, verifikasi penduduk dilakukan lewat pemadanan 1-1, antara jari yang ditempelkan pada pemindai KTP-el reader dengan data sidik jari yang terekam dalam chip KTP-el. Verifikasi ini sangat praktis karena tidak membutuhkan jaringan internet sebagaimana akses pada produk pertama pada penjelasan di atas. Otentikasi bisa dilakukan bahkan di daerah terpencil yang tidak ada arus listrik, sinyal komunikasi maupun koneksi internet sekalipun, karena transaksinya bersifat lokal. Syaratnya satu : harus ada Perangkat Pembaca KTP-el. Apakah beda antara KTP-el dengan kartu ATM bank ? Otentikasi ATM bank memanfaatkan “What you have” (kartu) dan “What you know” (PIN). Bahayanya apabila PIN ini bocor, maka akses ke rekening bank bisa dilakukan pihak yang tidak legitimate. Apabila PIN lupa, akses ke rekening pun tidak bisa dilakukan. Jadi ada keharusan untuk mengingat sandi yang diperlukan. Adapun KTP-el, memanfaatkan “What you have” (kartu) dan “Who you are” (biometrics sidik jari). Penduduk tidak perlu mengingat nomer PIN, dan cukup memakai sidik jarinya untuk memperoleh layanan publik.

Jadi secara teknis, tidak sependapat kalau program KTP-el disamakan dengan membuat kartu ATM bank. Ada beberapa perbedaan di antara keduanya. Produk program KTP-el tidak hanya kartu, tapi juga data penduduk yang bersih dan akurat sebagai basis untuk layanan prima kepada masyarakat.

Referensi

Dipublikasi di research | Meninggalkan komentar