Catatan mengikuti IAPR Governing Board Member Meeting 2022 (Montreal)

Selasa pagi saya sampai Stasiun Pasar Senen Jakarta pk 02.30, menunggu subuh. Kemudian berangkat ke Serpong lewat stasiun Tanah Abang. Malam ini perjuangan bagi saya. Karena badan masih lelah tapi harus bangun nanti tengah malam untuk mengikuti International Association of Pattern Recognition (IAPR) Governing Board Member Meeting di Montreal Canada secara online. Selain saya, mas Sunu Wibirama (UGM) juga mengikuti meeting tersebut sebagai Governing Board Member. Dari Indonesia cuma 2 Governing Board Member: saya dan mas Sunu. Meeting akan berlangsung selama 8 jam, 14.00-22.00 EDT (Montreal time). Kalau dengan waktu Indonesia, 01.00-09.00 am WIB. Perlu perjuangan untuk tidak terkantuk-kantuk. Karena nanti kami mengusung usulan untuk penyelenggaraan ICPR 2026.

Saya membantu Prof. Jean-Marc Ogier, Prof. Cheng-Lin Liu, and Prof. Tin Kam Ho. Jean-Marc Ogier adalah rektor La Rochelle Université, Perancis. Cheng-Lin Liu adalah Director, National Laboratory of Pattern Recognition (NLPR), China. Sedangkan Tin Kam Ho (peneliti di IBM) mengembangkan Random Forest yg belakang hari dipakai dalam Deep Learning. Jean-Marc Ogier tanya ke saya, datang atau tidak ke Montreal. Saya jawab, tidak dapat hadir ke Montreal. Kami sedang dilarang dinas LN karena pandemi. Sejujurnya kendala utama karena biaya (perkiraan saya perlu lebih dari 50 juta rupiah untuk datang ke Montreal).

Agenda meeting adalah sebagai berikut:

01.00 am WIB (14.00 waktu Montreal) : Start
03.00 am WIB – 03.15 am WIB : Coffee Break
05.00 am WIB – 05.30 am WIB : Dinner
06.00 am WIB : ICPR 2026 bids and vote
07.00 am WIB : Coffee Break
07.15 am WIB : New Exco vote

Saat ini sedang melaporkan jalannya ICPR 2022 di Montreal. Dari 1552 paper yang diterima panitia, 785 paper ditolak, 732 akhirnya diterima, dan 35 paper ditarik (mengundurkan diri).

Agak sedikit terlambat, pk 06.30 dibahas mengenai pemilihan lokasi ICPR tahun 2026. Ada dua negara yang mengajukan diri : Perancis dan Korea. Perancis memilih Lyon, sedangkan Korea memilih Daegu. Setelah dilakukan pengambilan suara, akhirnya terpilih Lyon sebagai calon penyelenggara ICPR pada tahun 2026.

Dipublikasi di catatan kerja, research | Meninggalkan komentar

Catatan terkena stroke ringan

Focus Group Discussion yg kami ikuti tanggal 3 Agustus 2019. Dari kiri ke kanan : Andry, Taufik, Tio, Anto

Sabtu, tanggal 3 Agustus 2019 saya mengikuti FGD yang diselenggarakan di UI, dihadiri oleh Dr. Taufik Sutanto, Dr. Andry Alamsyah, Dr. Setio Pramono dan beberapa rekan yang lain. Kami berdiskusi mengenai kurikulum Data Science. Dalam meeting tersebut, saya merasa sulit untuk berkata-kata. Waktu itu saya akan mengucapkan kata “artefact”, tapi sulit sekali keluar dari mulut saya walaupun otak saya faham apa yang akan saya ucapkan. Kesulitan ini saya alami sejak beberapa hari sebelumnya, ketika kelompok penelitian saya berdiskusi, saya kesulitan untuk menyampaikan kalimat demi kalimat ke teman saya : Rizki dan Wawan. Kemudian ada satu hal lagi yang aneh, saya berulangkali gagal login ke HP. Saya heran, apa saya salah ketik password. Sampai jengkel saya, karena hal tersebut berulang kali terjadi. Setelah saya perhatikan, ternyata pergerakan jari saya agak aneh. Password tidak saya ketikkan dengan benar, sehingga saya gagal login.

Ini berlanjut sampai hari Sabtu tersebut. Mas Andry menyampaikan : “Sepertinya mas Anto terkena stroke”. Saya kaget. Stroke adalah penyakit yang saya tidak terbayang akan mengena saya. Kata mas Andry, hal tersebut terjadi juga pada keluarganya. Gejalanya mirip, yaitu sulit sekali mengatakan apa yang ingin dikatakan. Setelah itu sorenya saya pulang ke Solo. Istri saya sudah kontak Dr. Suryo Aribowo, yang selama ini menangani hipertensi saya. Bobo (panggilan Dr. Suryo) minta agar saya segera dibawa ke RS PKU Muhammadiyah.

Minggu pagi saya sampai di Solo, dan langsung dibawa ke RS PKU. Di sana sudah ada Bobo yang memberi instruksi agar saya diperiksa. Sepertinya alat yg dipakai adalah MRI. Saya dipotret beberapa kali. Setelah selesai, Bobo minta saya opname. Waah, sekali-kalinya masuk RS, saya langsung opname 😃

Setelah itu saya mulai masuk kamar di RS, dan dipasang infus dan obat. Pengalaman pertama bagi saya diinfus 😃 Dokter yang menangani adalah Dr. Kamila, yang memang spesialis syaraf. Kalau mas Bobo spesialis penyakit dalam, saya kurang tahu detailnya, tapi kalau konsultasi hipertensi saya ke beliau.

Selama dirawat di RS saya mendapat fisio-terapi. Diminta untuk mengucapkan kata, menggerakkan jari ke satu tujuan, dst. Beberapa kali terapi dilakukan oleh petugas khusus. Hasil analisa MRI menyatakan kalau satu bagian di otak saya “terkena”. Ada bercak/garis hitam tipis. Itu yang menyebabkan saya stroke. Efeknya selain pada sulitnya ucapan, terganggunya ingatan, juga mudah tersinggung.

Selama di RS banyak sekali teman, saudara, tetangga dsb. yang menengok saya. Kami sangat terharu karena tadinya tidak mengabarkan kalau saya di-opname. Semoga Allah SWT membalas budi baik para sahabat tersebut.

Kemungkinan penyebab stroke ringan itu adalah gula. Sebenarnya gula saya walaupun tidak dalam taraf normal, tapi tidak terlalu tinggi (sekitar 200). Tetapi kata dokter, efeknya bisa merembet kemana-mana, salah satunya mungkin stroke tersebut. Selama di RS, menu saya diatur agar “aman”, tidak pakai gula (atau sedikit sekali). Memang membosankan kalau tidak merasakan manisnya gula, tapi saya harus berjuang agar kembali sehat seperti sedia kala.

Waktu itu ada gejala lain yang saya rasakan. Doa-doa yang biasa saya baca, tiba-tiba banyak yang lupa. Wudlu juga urutannya kadang suka terbalik, antara membasuh muka dan tangan. Berarti efek stroke ringan itu pengaruhnya sampai pada ingatan. Tanda tangan juga sulit, karena tidak mudah menggerakkan tangan seperti yang diinginkan. Saya melatih berulang kali, agar tangan mau bergerak seperti yang saya inginkan. Di situ saya memahami, betapa besar rahmat Allah SWT terhadap pergerakan tubuh yang disinkronkan dengan kehendak seseorang. Tulisan tangan saya pun jadi sulit dilakukan, karena itu lebih kompleks dari sekedar membubuhkan tanda tangan.

Dua minggu saya berada di RS, dan akhirnya diperbolehkan pulang. Kata dokter, saya diminta hati-hati dan menjaga makanan dan kesehatan tubuh, tidak boleh terlalu capek dan berbagai tips yang lain. Saya usahakan agar berangkat tidur pada jam 9 malam, dan setidaknya 6-7 jam tidur sehari semalam. Saya tidak berani lagi bangun sampai larut malam, mengejar target pekerjaan sebagaimana dahulu.

Tiap bulan sampai sekarang saya selalu konsultasi dengan Dr. Karmila. Beliau menanyakan perkembangan kesehatan saya dan keluhan yang mungkin saya rasakan. Saya laporkan kalau kesehatan saya makin lama, makin membaik. Saya sudah bisa mengucapkan kata-kata, membentuk kalimat utuh, walaupun terpaksa tempo bicara saya turunkan. Koordinasi antara otak dan motorik (mulut) perlu disinkronkan. Dengan begitu lambat laun, tempo bisa saya percepat sampai sekarang.

Saya cerita ke bu dokter, bahwa proses kesembuhan itu memang perlu waktu lama, bertahun-tahun. Tapi saya “menikmati”-nya sebagai proses belajar. Saya jadi mengerti pentingnya ingatan, ketika saya mengalami gangguan ingatan. Ketika itu saya kadang suka salah sebut nama, sehingga kami semua jadi tertawa. Ini tandanya ingatan (ttg nama) dan ucapan belum sinkron.

Satu hal yang saya laporkan ke bu dokter, adalah mudahnya saya tersinggung oleh ucapan orang lain. Kata dokter, memang itu adalah salah satu akibat stroke. Apa yang harus saya lakukan ? Dokter menyarankan agar kalau tersinggung, disampaikan saja eksplisit kalau saya tersinggung. Itu lebih baik, kata dokter. Waaah, itu satu-satunya yang saya tidak patuhi. Selama ini kalau tersinggung, saya simpan dalam hati. Saya fahami, kalau itu akibat stroke sehingga saya harus bersabar dan menghibur diri. Jangan sampai mudah tersinggung, mudah marah ke lain orang. Mungkin cara saya ini tidak benar menurut ilmu kesehatan, tapi saya berdoa agar tidak mempengaruhi upaya saya untuk menjadi sehat seperti sediakala.

PS: satu hal penting yang saya pelajari dari kasus di atas adalah : biasakan menulis catatan, selengkap mungkin, sebisa mungkin. Sewaktu-waktu ingatan kita bisa saja terganggu. Jika itu terjadi, maka catatan itu akan sangat membantu.

Dipublikasi di kesehatan | Meninggalkan komentar

Permendagri No.72 tahun 2022

Saya baru dapat informasi, bahwa Peraturan Menteri Dalam Negeri no.72 tahun 2022 yang mencantumkan SNI ISO/IEC 19794-2 dan standar yang lain, yang kami siapkan di Komtek 35-01 Teknologi Informasi. Permendagri 72 / 2022 ttg spek teknis chip ktp el dan identitas digital, maka juga sebagai regulasi payung dg pengujian perangkat ktp el oleh BRIN dan BSSN (halaman 8 pasal 3, halaman 10 pasal 7, halaman 17 pasal 22). Permendagri ini bertanggalkan 1 April 2022. Dalam pengetahuan saya, ini peraturan kedua (yg pertama : Permendagri No.76 tahun 2020) yang mewajibkan SNI sebagai acuan dalam penulisan data di chip KTP elektronik.

Kebetulan saya bertugas sebagai ketua Working Group Biometrik, Komite Teknis 35-01 Teknologi Informasi di BSN yang bertugas mengkonsep, menyiapkan standar terkait biometrik. Standar biometrik yang sudah kami siapkan adalah:

  1. SNI ISO/IEC 2382-37:2017 Teknologi Informasi – Kosakata – Bagian 37:Biometrik, ditetapkan lewat Keputusan Kepala BSN No. 171/KEP/BSN/4/2019, 26 April 2019, https://komtek3501.id/sni/ (Adopsi Identik, peran sebagai Konseptor dan Anggota Komite Teknis 35-01)
  2. SNI ISO/IEC 19794-2 Teknologi Informasi – Format Pertukaran Data Biometrik Bagian 2: Data Minutiae Jari, ditetapkan lewat Keputusan Kepala BSN No. 56/Kep/BSN/3/2020, 19 Maret 2020 (Adopsi Identik, peran sebagai Konseptor dan Anggota Komite Teknis 35-01)
  3. SNI ISO/IEC 19794-4 Teknologi Informasi – Format Pertukaran Data Biometrik Bagian 4: Data Citra Jari, ditetapkan lewat Keputusan Kepala BSN No. 57/Kep/BSN/3/2020, 19 Maret 2020 (Adopsi Identik, peran sebagai Konseptor dan Anggota Komite Teknis 35-01)
  4. SNI ISO/IEC 19794-5:2011 Teknologi Informasi – Format Pertukaran Data Biometrik Bagian 5: Data Citra Wajah, ditetapkan lewat Keputusan Kepala BSN No. 780/KEP/BSN/12/2020, 30 Desember 2020 (Adopsi Identik, peran sebagai Konseptor dan Anggota Komite Teknis 35-01)
  5. SNI ISO/IEC 19794-13 Teknologi Informasi – Format Pertukaran Data Biometrik Bagian 13: Data Suara, ditetapkan lewat Keputusan Kepala BSN No. 139/KEP/BSN/4/2021, 23 April 2021(Adopsi Identik, peran sebagai Konseptor dan Anggota Komite Teknis 35-01)
  6. SNI ISO/IEC 19794-6 Teknologi Informasi – Format Pertukaran Data Biometrik Bagian 6: Data Citra Iris, ditetapkan lewat Keputusan Kepala BSN No. 345/KEP/BSN/8/2021, 24 Agustus 2021(Adopsi Identik, peran sebagai Konseptor dan Anggota Komite Teknis 35-01)

SNI sifatnya tidak diwajibkan. Kebetulan SNI yang kami siapkan mengenai biometrik diwajibkan untuk KTP elektronik oleh Permendagri No.76 tahun 2020 dan Permendagri No.72 tahun 2022. Hal itu yg saya sampaikan di Australia secara online dengan judul : Implementation of Biometrics Standards for Indonesian e-ID Card, join Standards Australia with thema “Incubating Capacity for Critical and Emerging Technology Standards for Safety, Security and Trade”, 25 October 2021. Hal ini sudah saya tuliskan di blog saya : https://asnugroho.wordpress.com/2020/05/06/dua-standar-nasional-biometrik-akhirnya-ditetapkan/

Semoga bermanfaat. 🙏

Dipublikasi di catatan kerja | Meninggalkan komentar