Evaluasi 2020

Tahun 2020 telah berjalan lebih dari separuh. Catatan di blog saya update, sebagai upaya evaluasi diri dan bersyukur atas karunia-Nya. Tahun ini karena pandemi, saya bekerja dari rumah sejak awal Maret yang lalu. Semoga pandemi segera berlalu dan kita kembali ke aktivitas seperti semula. Ya Allah, terima kasih atas segala kesempatan dan pelajaran yang telah Kau berikan. Berikanlah kami kekuatan untuk dapat berbuat lebih baik lagi pada tahun yad.  (Catatan tahun yll. dapat dibaca di evaluasi 2019, evaluasi 2018, evaluasi 2017evaluasi 2016evaluasi 2015,  evaluasi 2014evaluasi 2012,  evaluasi 2011 , evaluasi 2010 , evaluasi 2009, dan evaluasi 2008. )

  1. Aktivitas di Indonesian Association for Pattern Recognition (INAPR)

    1. Tahun ini kami mengajukan pendaftaran asosiasi ke Kementrian Hukum dan HAM. Semoga saja pendaftaran segera selesai dan INAPR resmi terdaftar sebagai organisasi ilmiah di Indonesia maupun dunia.
  2. Research Topics
    1. Deteksi Covid-19 dari citra CT-Scan memakai Machine Learning ( Task Force Riset dan Inovasi Covid-19 “TFRIC-19” )
    2. Pengukuran kinerja komponen biometrics pada perangkat pembaca KTP elektronik (layanan teknologi untuk industri)
    3. Pengembangan sistem identifikasi individu memakai multimodal biometric : pengenalan wajah  ( pendanaan dari DIPA BPPT )
    4. Computer Aided Malaria Diagnosis dari citra mikroskopis apusan darah  untuk klasifikasi spesies & life stage Plasmodia
  3. Academic Publications
    1. Kaji Terap Kecerdasan Buatan di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Hammam Riza, Anto Satriyo Nugroho, Gunarso, Jurnal Sistem Cerdas Vol.3, No.1, pp.1-24, 2020
    2. A new automatic QT-interval measurement method for wireless ECG monitoring system using smartphone, Trio Pambudi Utomo, Nuryani, Anto Satriyo Nugroho,  Journal of Biomedical Physics and Engineering (accepted)
    3. Saat ini tengah mengajukan 2 paper dan dalam proses review
  4. Hak atas Kekayaan Intelektual
    1. BPPT Biometrics Performance Testing : Perangkat Lunak Pengujian terhadap Kinerja Sistem Biometrik berdasarkan Permendagri No.34 Tahun 2014 (Hak Cipta No.EC00202009269, 9 Maret 2020). Karya kami telah dipakai untuk layanan teknis pada lebih dari 29 pengujian Reader KTP-el untuk industri dalam negeri.
    2. Dalam proses pengajuan Hak Cipta kedua.  Karya kami ini pun telah dipakai untuk layanan teknis pada lebih dari 29 pengujian Reader KTP-el untuk industri dalam negeri
  5. Standar Nasional Indonesia
    1. SNI ISO/IEC 19794-2 Teknologi Informasi – Format Pertukaran Data Biometrik Bagian 2: Data Minutiae Jari, ditetapkan lewat Keputusan Kepala BSN No. 56/Kep/BSN/3/2020, 19 Maret 2020 (Adopsi Identik, peran sebagai Konseptor dan Anggota Komisi Teknis 35-01)
    2. SNI ISO/IEC 19794-4 Teknologi Informasi – Format Pertukaran Data Biometrik Bagian 4: Data Citra Jari, ditetapkan lewat Keputusan Kepala BSN No. 57/Kep/BSN/3/2020, 19 Maret 2020 (Adopsi Identik, peran sebagai Konseptor dan Anggota Komisi Teknis 35-01)
    3. Tahun ini kami tengah menyelesaikan standar biometrik ke-4 dan ke-5. Yaitu : adopsi identik dari ISO/IEC 19794-5 dan ISO/IEC 19794-13.
  6. Presentation / Invited Talk
    1. A.S. Nugroho: Tips Mengirimkan Karya Tulis ke Jurnal Internasional, FEB UNS, Surakarta, 1 Februari 2020
    2. A.S. Nugroho: “Deteksi Covid-19 memakai Teknologi Machine Learning”, Webinar serial Inovasi Indonesia dalam menghadapi Pandemi, 29 Juli 2020
  7. Teaching
    1. Artificial Intelligence  (Swiss German University, Dept. of Information & Communication Technology, Semester 4)
    2. Kapita Selekta ( UNS Sebelas Maret, Surakarta, Semester 8 )
    3. Introduction to Pattern Recognition (Swiss German University, Dept. of Information & Communication Technology, Semester 5)
    4. Digital Image Processing (Swiss German University, Dept. of Information & Communication Technology, Semester 7)
    5. Datamining ( UNS Sebelas Maret, Surakarta, Semester 7 )
  8. Supervised thesis
    1. Ferdinand Mahardhika (S3, Binus)
  9. Tugas tambahan
    1. Konseptor Rancangan Standar Nasional Indonesia Biometrik dalam Perumusan  Standar Nasional Indonesia yang dilaksanakan oleh Komite Teknis 35-01: Teknologi Informasi sesuai Program Nasional Perumusan Standar tahun 2019.
      (Surat Perintah Pelaksanaan Tugas No.3A/SP.04.08/KP.01.06/01/2019)
    2. Anggota Komite Teknis Perumusan Standar Nasional Indonesia 35-01 Teknologi Informasi berdasarkan Surat Keputusan Badan Standardisasi Nasional No.493/KEP/BSN/11/2019 tentang Perubahan atas Keputusan Kepala Badan Standardisasi Nasional No. 313/KEP/BSN/10/2018 tentang Penetapan Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris dan Anggota Komite Teknis Perumusan Standar Nasional 35-01 Teknologi Informasi
    3. O member, yang bertugas pada JTC1/SC 37 dalam kategori “pakar”. JTC1/SC 37 adalah sub-komite standarisasi biometrik pada the Joint Technical Committee ISO/IEC JTC 1 of the International Organization for Standardization (ISO) dan the International Electrotechnical Commission (IEC)
    4. Anggota DELRI (Delegasi RI) mengikuti Plenary Meetings ISO/IEC JTC 1Information Technology, tanggal 23-26 Juni 2020
  10. Review

    1. International Conference on Pattern Recognition (https://www.micc.unifi.it/icpr2020/)
    2. Jurnal Teknologi Industri “Teknoin”, Univ. Islam Indonesia (https://journal.uii.ac.id/jurnal-teknoin/)
    3. Jurnal Sains dan Sistem Informasi “JUSS” (https://online-journal.unja.ac.id/JUSS)
    4. Int. J. of Business Intelligence and Data Mining (https://www.inderscience.com/jhome.php?jcode=ijbidm)
    5. Computers Biology and Medicine (https://www.journals.elsevier.com/computers-in-biology-and-medicine)
    6. The International Conference on Engineering and Information Technology for Sustainable Industry (https://iconetsi.sgu.ac.id/2020/)
Dipublikasi di research | Meninggalkan komentar

Gudeg

Sore ini saya pesan bubur gudeg lewat gofood, ke langganan saya. Murah. Cuma Rp 12.500,- Saya pernah mencari lokasinya di mana, tapi tidak ketemu. Hanya melihat halte-halte di pinggir jalan kampung, yang tidak ada jualannya. Tapi herannya, kalau saya pesan gofood, selalu dapat. Tadi saya tanya ke mas driver-nya. Ternyata warung yang saya beli gudeg itu, sudah pindah ke rumah. Home business berarti ya. Dulunya di halte depan rumah, sekarang balik ke rumah karena tidak terlalu laku waktu di halte. Sekarang dengan layanan gofood, dia tetap bisa memenuhi pesanan gudeg-nya. “Padahal gudeg-nya, menurut saya enak lho mas.”, kata saya. Drivernya juga cerita kalau dia tadi melihat di “warung” penjualnya ada rujak. Akhirnya dia pesan rujak.
Rasa gudeg nya tradisional. Saya jadi ingat, Mbah Wig di perempatan gang Mawar Badran. Yang kalau pagi membuka warung di pinggir perempatan. Seingat saya jualan makanan tradisional waktu pagi termasuk ketan kalau tak salah. Itu 40 tahun yang lalu. Sekarang semua sudah berubah.

WhatsApp Image 2020-06-14 at 6.45.00 PM

Dipublikasi di Indonesiaku | Meninggalkan komentar

First Author dalam Paper

Saat itu kami sedang menunggu hasil review paper yang telah disubmit ke Nature Genetics. Kami kontak ke kolaborator di Hokkaido Univ. “Pak, bolehkah penelitian kita disubmitkan ke international conference ?”. Jawab beliau “Jangan. Tunggu dulu hasil review dari Nature. Saya khawatir kalau disubmit ke tempat lain, nanti yang di Nature akan ditolak karena sudah bukan novel contribution lagi”. Demikian jawab beliau. Walaupun saya penulis pertama, dan beliau bukan pembimbing saya, tapi tema yang kami lakukan adalah bagian project bioinformatics di Hokkaido University. Karena untuk Nature, yang diperhatikan pertama kali adalah siapa first, second dan last author, awalnya saya menyampaikan ke beliau “Saya tidak harus jadi first author, Pak. Hasil diskusi dengan pembimbing saya, kami persilakan bapak menjadi first author, karena bapaklah yang merintis tema ini, dan punya track record di bidang yang kita kerjakan.” Tapi jawab beliau justru diluar dugaan “Nggak To. Harus kamu yang jadi first author. First author diberikan kepada yang paling banyak kontribusinya dalam suatu penelitian. Dalam riset ini, kamu yang paling banyak bekerja”. Akhirnya paper itu disubmit dengan saya sbg first author, beliau sbg second dan diikuti dengan tim kolaboator di Hokkaido maupun di institusi tempat saya belajar. Walaupun sebagai first author, tetapi untuk publikasi ke lain tempat, kami selalu minta izin ke Hokkaido sebagai pemilik tema maupun contact person for correspondence.

Posisi sbg first author memang sangat penting dan prestisius. Saya beruntung dibimbing oleh professor-professor yang fair dalam melakukan penelitian. Sehingga untuk penulisan paper, saya diberikan kesempatan sebagai first author. Ada beberapa rekan saya yang kurang beruntung, karena professor-nya selalu minta sebagai first author, padahal yang bekerja keras adalah muridnya. Saling menghormati kontribusi masing-masing adalah hal yang penting dalam penelitian. Beberapa kali saya melakukan kolaborasi, dan datanya atas kebaikan dan trust dari kolaboator diberikan ke saya. Data microarray, data handwriting character, data terapi hepatitis dsb. Walau demikian, saya tidak berani menggunakan data di atas untuk riset saya, tanpa seizin professor yang memberikan akses tsb. kepada saya. Trust itu mahal harganya. Karena itu sejak pulang ke Indonesia, saya memikirkan tema yang saya rintis sendiri, independen dari tema yang selama ini saya lakukan, agar saya punya kebebasan dalam melakukan penelitian. Perjalanan mencari tema itu cukup lama, sampai akhirnya saya sampai di 2 tema besar : malaria & biometrics. Saya buat roadmapnya, mana long term objectivenya dan mana yg short term. Dasarnya tetap pattern recognition, spesialisasi yg saya tekuni di Jepang.
Kembali ke urutan author, saya pernah diminta untuk menulis paper (invited) atas studi yg saya lakukan. Tetapi oleh society, diminta yang menjadi first author adalah pembimbing saya. Akhirnya paper tetap saya tulis walaupun agak sedih, karena hilang kesempatan sbg first author. Di luar dugaan, saat saya menghadap pembimbing untuk memberikan laporan akhir, beliau mengatakan ke saya : “To, urutan penulis ini harap dibalik. Kamu jadi yang pertama. Saya sudah tidak butuh jadi penulis pertama lagi”. Fairness. Itu yang diajarkan sensei kepada saya. Adil, walaupun kepada murid sendiri.
Selama ini saya berusaha menjalankan apa yang diajarkan guru-guru saya selama ini. Kepada murid-murid saya, saya selalu berikan kesempatan untuk jadi 1st author. Memang ada resiko saya akan mendapatkan nilai kredit yang rendah (karena sistem di Indonesia), atau nol, hilang sama sekali kesempatan mendapatkan nilai kredit. Bagi saya, hal itu tidak mengapa, karena tujuan saya menulis paper bukan untuk mengejar professorship, bukan untuk mendapatkan KUM atau nilai kredit. Tetapi saya menulis lebih karena tanggung jawab saya sbg scientist, dan juga hobby saya untuk belajar & berkomunikasi lewat tulisan. (Kemarin saya baru saja dengar, seorg doktor yang enggan menulis paper lagi karena peraturan yg ada membuat ybs kehilangan kesempatan menjadi professor. Dalam hati saya berkata, lho…emang bapak selama ini menulis paper hanya buat jadi professor ta ? ).
Selama memang kontribusinya besar, saya akan berusaha menjadikan murid saya 1st author. Kebahagiaan besar bagi seorang dosen jika melihat anak didiknya maju. Tapi pernah juga saya menuntut apa yang mestinya jadi hak saya. Misalnya di paper saya ttg terapi interferon yg diterbitkan di Springer, atas kesepakatan bersama, akhirnya permintaan saya disetujui : ditulis bhw penulis pertama dan penulis kedua berkontribusi sama besar dalam studi yg dilakukan. Saya saat itu sbg 2nd author.
PS:
  1. Urutan author adakalanya berdasarkan abjad authornya, misalnya paper di Physical Review D
    https://asnugroho.wordpress.com/2010/04/17/jumlah-konvensi-urutan-author-sebuah-paper/

 

Dipublikasi di research | Meninggalkan komentar