Catatan partisipasi pada Ritech Expo 2016

Pada tanggal 10-13 Agustus 2016, kami mengikuti Ritech Expo 2016 yang diselenggarakan di Manahan, Surakarta. Kegiatan ini diselenggarakan tiap tahun oleh Kementrian Riset Dikti sebagai salah satu rangkaian Hari Kebangkitan Teknologi Nasional.

Pada tanggal 9 Agustus 2016, tim pameran Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi (PTIK) dan Pusat Teknologi Elektronika (PTE) BPPT datang dan melakukan persiapan, setting peralatan di booth PTIK-BPPT. Tim pameran dari PTIK terdiri dari Anto Satriyo Nugroho, Elvira Nurfadilah dan Andre Lapian. Dari PTIK ditampilkan 4 item pameran : e-voting, e-verifikasi, biometrics untuk otentikasi pasien pada sistem layanan kesehatan dan Sistem Cerdas Pendeteksi Malaria dari Citra Mikroskopis Apusan Tebal Darah. Deskripsi untuk materi pameran dari Lab. Intelligent Computing PTIK dapat dilihat di posting sebelumnya.

Selain 4 item dari PTIK, Pusat Teknologi Elektronika (PTE) juga mengikuti pameran dengan menampilkan ADSB. PTIK dan PTE menempati satu area berukuran 3x3m. Mengingat lokasi pameran terbuka, demi keamanan barang-barang yang mahal kami bawa pulang ke rumah. Esok harinya kami bawa ke lokasi pameran, dan disetting ulang. Malam harinya, panitia menyerahkan 1 form untuk diisi peralatan apa saja yang ditinggal di lokasi. Malam harinya, petugas akan berkeliling dan mengecek apakah alat tsb. masih ada atau tidak di lokasi. Yg diminta dicatat cukup yg perangkat demo, yg dirasa perlu untuk dicek petugas.

Pada tanggal 10 Agustus 2016, saya berangkat pagi ke lokasi pameran dan bersegera setting peralatan, karena sekitar pk.07.30 sudah harus steril. Rencananya presiden RI akan hadir dan membuka acara. Tetapi ternyata beliau berhalangan hadir, sehingga menjelang siang penjagaan sudah tidak seketat sebelumnya.

Selama pameran berlangsung dan kami bergantian menjelaskan hasil karya litbangyasa PTIK. Pengunjung di hari pertama banyak yang berasal dari peneliti, pejabat, kalangan industri, masyarakat umum. Sedangkan pada hari-hari berikutnya lebih banyak yang berasal dari masyarakat umum, terutama pelajar SD, SMP, SMA dan perguruan tinggi. Materi yang disampaikan tentunya harus disesuaikan dengan pengunjung. Kepada kalangan industri dan pejabat, biasanya kami jelaskan manfaat dari produk yang dikembangkan. Sedangkan kepada pengunjung dari kalangan peneliti, kami bisa ceritakan lebih detail. Kepada pengunjung dari adik-adik SD, SMP dan SMA, materi yang disampaikan perlu diubah, agar sesuai dan menarik bagi mereka. Misalnya untuk biometrik, yang dibahas bagaimana “membaca” sidik jari, menawarkan kepada mereka untuk mencari titik-titik minutiae pada sidik jarinya, atau bagaimana memakai mikroskop untuk melihat sel darah. Kadang saya kaget ketika pengunjung yang anak-anak begitu datang langsung memegang mikroskop, mengubah-ubah settingnya. Ada juga yang karena demikian girangnya, adakalanya seorang anak memutar slide mikroskop, tanpa melihat kemana slide bergerak, sambil teriak ke temannya “hooi…ini lho..aku bisa memakai mikroskop”, dan saya pun jadi deg-degan. Jangan sampai slide jadi pecah, karena diputar arah vertikal. Kebanyakan anak-anak yang datang belum pernah memegang mikroskop, sehingga memberi kesempatan kepada mereka merupakan hal yang baik. Kalau dikemas dengan baik, bisa saja hal tersebut menjadi awal ketertarikan si anak kepada dunia sains.

Selain bertugas menjaga pameran, saya juga mencoba mengunjungi stan yang lain. Hari kedua di pameran Ritech Expo, saya mencoba cari waktu untuk berkunjung & melihat stan lain. Salah satu yg menarik adalah stan-nya lembaga Eijkman. Di stan tersebut ditampilkan hasil riset biodiversity, malaria (yg kami ikut berkolaborasi di dalamnya), dsb. Saya tertarik untuk mendapatkan penjelasan mengenai migrasi manusia yg terekam di mitokondria. Dengan melihat mutasi genetik yg terjadi, dapat diperkirakan usia suatu suku bangsa, dan direkonstruksi, bagaimana migrasi berlangsung. Yang menarik, di peta migrasi tadi terlihat semua berasal dari Afrika. Apakah di sana manusia berasal ? Wallahu alam. Kemudian, pola penyebaran yg terekam di mitokondria itu menunjukkan bahwa sebagian dari org Indonesia, migrasi ke Madagaskar. Hal ini dikuatkan dari riset linguistik, yg menunjukkan kemiripan bahasa yg dipakai di Madagaskar dg bahasa di Nusantara. 

Dari informasi genom sebenarnya banyak hal, banyak cerita menarik yg bisa digali. Migrasi manusia purba adalah salah satunya.

 

Pada hari Jumat, tim BPPT sebagian besar sudah kembali ke Jakarta, sehingga saya hanya bisa mengikuti pameran setengah hari, karena tidak ada lagi yang menjaga stan saat saya sholat Jumat. Pada hari Sabtu, karena dari BPPT tinggal saya sendiri, akhirnya saya pindah ke ruang utama yang lebih sejuk, menempati stan BPPT (selain produk TIK). Sejak pk.10 sampai pk.13, hampir saya tidak bisa beristirahat karena menjelaskan materi pameran kepada pengunjung yang di luar dugaan banyak yang tertarik dan berkunjung. Mungkin juga karena penutupan jatuh pada hari Sabtu, sehingga banyak yang datang dengan keluarganya.

Beberapa hal yang kami catat dari kegiatan pameran ini antara lain sebagai berikut:

  1. Perlunya menyiapkan demo bukan hanya untuk satu kegiatan, melainkan bisa dipakai untuk berpartisipasi pada kegiatan-kegiatan berikutnya maupun memperkenalkan hasil penelitian pada pengunjung laboratorium di kantor.
  2. Tutorial/Manual pemakaian peralatan demo perlu didokumentasikan dengan baik, misalnya dengan video. Perlu adanya pelatihan bagi tiap anggota lab. agar bisa memperlihatkan demo tersebut kepada siapa saja, sehingga sewaktu-waktu diperlukan, siapa saja bisa ditugaskan untuk berpartisipasi dalam pameran, dan tidak tergantung pada satu dua orang saja. Dalam kegiatan ini, demo pemakaian peralatan telah dibuat oleh salah satu staf senior di lab. Yuki Istianto yang sangat memudahkan kami dalam bekerja.
    Screen Shot 2016-08-27 at 2.31.48 PM
  3. Selain piranti demo, brosur, banner, leaflet harus selalu tersedia dan diupdate substansinya.
  4. Perlu dibuat check list barang-barang yang dibawa di pameran, agar tidak terlupa saat membawanya ke lapangan, maupun saat membawa kembali ke kantor. Misalnya yang kami buat sebagai berikut:
    Screen Shot 2016-08-27 at 2.31.59 PM
  5. Piranti demo perlu dicek dan dipastikan bisa berjalan dengan baik. Pengecekan ini dilakukan baik di laboratorium, saat mau berangkat dan di tempat pameran.
  6. Penting untuk mengetahui segmen pengunjung, karena tidak semua pengunjung dari pejabat, dan peneliti. Ada kalanya pengunjung berasal dari kalangan umum, maupun pelajar dan anak-anak. Sejauh mungkin disiapkan materi paparan  yang bisa disesuaikan dengan pengunjung.

Foto-foto dalam kegiatan pameran dapat dilihat sebagai berikut:

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di research, talk & seminars | Meninggalkan komentar

Partisipasi di Intelisys 2016 dan Best Paper Award

Pada tanggal 20 dan 21 Agustus 2016, penelitian mahasiswa bimbingan saya di SGU dipresentasikan di  The 4th International Conference on Advances in Bioinformatics, Chem-Informatics, Business Intelligence, Social Media and Cybernetics (Intelisys 2016),  2016. Karena saya berhalangan hadir, dan kedua mahasiswa saya sudah lulus, penelitian kami dipresentasikan oleh Dr. Maulahikmah Galinium. Ada dua topik yang dipresentasikan:

  1. Evaluation of Feature Extraction Algorithms for Multi-Ethnic Facial Sketch Recognition, Andrew Japar, Anto Satriyo Nugroho, James Purnama and Maulahikmah Galinium , Proc. of the 4th International Conference on Advances in Bioinformatics, Chem-Informatics, Business Intelligence, Social Media and Cybernetics (Intelisys 2016), Paper Code : IS-102, Bandung Indonesia, 20-21 August 2016
  2. Automated Classification of Malaria Plasmodia from Thin Blood Smears Microphotograph , Raymond Septevan Chandra, Anto Satriyo Nugroho, Maulahikmah Galinium, Made Gunawan, Vitria Pragesjvara, Ismail Ekoprayitno Rozi and Puji Budi Setia Asih , Proc. of the 4th International Conference on Advances in Bioinformatics, Chem-Informatics, Business Intelligence, Social Media and Cybernetics (Intelisys 2016), Paper Code : IS-103, Bandung Indonesia, 20-21 August 2016

Paper pertama yang berasal dari tugas akhir Andrew Japar, mahasiswa bimbingan akhir kami di SGU mengenai pengenalan wajah orang dari sketsa semi-forensik. Yang dibahas dalam penelitian Andrew adalah ekstraksi fitur/karaksteristik, karena bagian tersebut yang memegang peranan sangat penting dalam pengembangan  facial recognition system. Sketsa wajah dibangun dari serpihan informasi parsial mengenai karakteristik wajah seseorang, sehingga yang diingat hanya garis besar atau ciri terpenting wajah seseorang. Sedangkan detailnya diabaikan atau mengalami distorsi. Kami sebut multi-etnik karena object yang dibuat sketsanya berasal dari mahasiswa, staf dan karyawan SGU yang beragam etnis-nya : Jawa, Tionghoa, Padang, Arab, dsb. 

14068191_10154383117904477_3762323634947401063_n

Sedangkan penelitian kedua berasal dari tugas akhir Raymond Septevan Chandra, yang merupakan bagian kerjasama penelitian antara kami di BPPT dengan Laboratorium Malaria Lembaga Biologi Molekuler Eijkman dan SGU.  Penelitian Raymond bertujuan melakukan identifikasi spesies plasmodia dari karakteristik parasit tersebut. Spesies plasmodia di Indonesia diketahui ada 5 : Plasmodium falciparum, Plasmodium vivax, Plasmodium ovale, Plasmodium malariae dan belakangan ditemukan Plasmodium knowlesi. Untuk membedakan kelima spesies tersebut, berbagai ciri yang dihitung memakai statistik seperti skewness, entropy, kurtosis  diukur dan dipakai untuk melatih Decision Tree yang bertugas membuat keputusan. Hasil identifikasi ini diperlukan dalam penanganan medis kepada pasien penderita Malaria.

Di akhir seminar, kami bersyukur ketika salah satu paper yang dipresentasikan meraih best paper award, yaitu paper mengenai klasifikasi spesies Plasmodia.

Terima kasih kepada pak Maula yang telah mengkomunikasikan dengan sangat baik, aktivitas penelitian yang kami lakukan bersama, dan juga  untuk murid-muridku tercinta yang telah bekerja keras, sehingga dapat meninggalkan kenangan manis saat menyelesaikan studi S1-nya.

Screen Shot 2016-08-26 at 5.47.51 AM

Dipublikasi di research, talk & seminars | Meninggalkan komentar

Berawal dari selembar foto di internet

Hari ini saya dan beberapa teman, bertemu dengan Tei-san, seorang kawan sekelas di Tokyo waktu kami belajar bahasa Jepang sebelum masuk perguruan tinggi. Pertemuan ini adalah pertama kali, sejak kami lulus bahasa Jepang, 25 tahun yang lalu.

Setelah sekolah di Jepang, Tei-san tinggal dan mengelola bisnisnya di Taiwan. Suatu hari dia menemukan foto kelas kami yang saya upload di internet, kalau tidak facebook ya blog ini. Tei terkejut dan dia terbayang masa-masa susah payah yang lalui bersama, selama belajar  bahasa Jepang di Kokusai Gakuyukai Nihonggo Gakko, di Tokyo. Pada foto ini, Tei san berdiri di belakang, nomer 2 dari kiri, memakai baju garis-garis horisontal. Saya jongkok di paling depan, paling kanan.

13310465_10154144233394477_842125224332209895_n

Kemudian dia berusaha mencari pemilik foto tersebut. Dengan bantuan teman Indonesianya yang di Taiwan, akhirnya dia berhasil menemukan facebook saya, dan mencoba kontak ke saya. Begitu berhasil kontak dengan saya, akhirnya tersambung dengan teman-teman sekelasnya yang ada di foto di atas. Sayang Yudi Chandra tidak berhasil kami kontak. (Yud…kalau suatu saat lihat tulisan ini, kontak ke kami ya…)

Screen Shot 2016-08-17 at 9.24.47 PM

Hari ini khusus dia ke Indonesia, untuk reuni dan betemu dengan teman-temannya setelah 25 tahun terpisah. Demikian dia ceritakan dengan mata berkaca-kaca dan suara sembab, karena terharu.  Ini kali pertama Tei-san datang ke Indonesia. Hari ini yg dapat reunian dari kelas kami selain Tei-san adalah Andi Utama, Nurul Taufiqur Rahman, Wahyo Sindhu, mas Insan Fathir dan saya. Kami berjalan-jalan ke Taman Mini, kemudian ke Ancol. Sayang jalanan macet, sehingga akhirnya diputuskan kembali ke hotel dan makan malam bersama. Semoga ini bukan yang terakhir.  Silaturahmi itu memang indah.

Foto-foto :

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di gado-gado, memory | Meninggalkan komentar