Gudeg

Sore ini saya pesan bubur gudeg lewat gofood, ke langganan saya. Murah. Cuma Rp 12.500,- Saya pernah mencari lokasinya di mana, tapi tidak ketemu. Hanya melihat halte-halte di pinggir jalan kampung, yang tidak ada jualannya. Tapi herannya, kalau saya pesan gofood, selalu dapat. Tadi saya tanya ke mas driver-nya. Ternyata warung yang saya beli gudeg itu, sudah pindah ke rumah. Home business berarti ya. Dulunya di halte depan rumah, sekarang balik ke rumah karena tidak terlalu laku waktu di halte. Sekarang dengan layanan gofood, dia tetap bisa memenuhi pesanan gudeg-nya. “Padahal gudeg-nya, menurut saya enak lho mas.”, kata saya. Drivernya juga cerita kalau dia tadi melihat di “warung” penjualnya ada rujak. Akhirnya dia pesan rujak.
Rasa gudeg nya tradisional. Saya jadi ingat, Mbah Wig di perempatan gang Mawar Badran. Yang kalau pagi membuka warung di pinggir perempatan. Seingat saya jualan makanan tradisional waktu pagi termasuk ketan kalau tak salah. Itu 40 tahun yang lalu. Sekarang semua sudah berubah.

WhatsApp Image 2020-06-14 at 6.45.00 PM

Dipublikasi di Indonesiaku | Meninggalkan komentar

First Author dalam Paper

Saat itu kami sedang menunggu hasil review paper yang telah disubmit ke Nature Genetics. Kami kontak ke kolaborator di Hokkaido Univ. “Pak, bolehkah penelitian kita disubmitkan ke international conference ?”. Jawab beliau “Jangan. Tunggu dulu hasil review dari Nature. Saya khawatir kalau disubmit ke tempat lain, nanti yang di Nature akan ditolak karena sudah bukan novel contribution lagi”. Demikian jawab beliau. Walaupun saya penulis pertama, dan beliau bukan pembimbing saya, tapi tema yang kami lakukan adalah bagian project bioinformatics di Hokkaido University. Karena untuk Nature, yang diperhatikan pertama kali adalah siapa first, second dan last author, awalnya saya menyampaikan ke beliau “Saya tidak harus jadi first author, Pak. Hasil diskusi dengan pembimbing saya, kami persilakan bapak menjadi first author, karena bapaklah yang merintis tema ini, dan punya track record di bidang yang kita kerjakan.” Tapi jawab beliau justru diluar dugaan “Nggak To. Harus kamu yang jadi first author. First author diberikan kepada yang paling banyak kontribusinya dalam suatu penelitian. Dalam riset ini, kamu yang paling banyak bekerja”. Akhirnya paper itu disubmit dengan saya sbg first author, beliau sbg second dan diikuti dengan tim kolaboator di Hokkaido maupun di institusi tempat saya belajar. Walaupun sebagai first author, tetapi untuk publikasi ke lain tempat, kami selalu minta izin ke Hokkaido sebagai pemilik tema maupun contact person for correspondence.

Posisi sbg first author memang sangat penting dan prestisius. Saya beruntung dibimbing oleh professor-professor yang fair dalam melakukan penelitian. Sehingga untuk penulisan paper, saya diberikan kesempatan sebagai first author. Ada beberapa rekan saya yang kurang beruntung, karena professor-nya selalu minta sebagai first author, padahal yang bekerja keras adalah muridnya. Saling menghormati kontribusi masing-masing adalah hal yang penting dalam penelitian. Beberapa kali saya melakukan kolaborasi, dan datanya atas kebaikan dan trust dari kolaboator diberikan ke saya. Data microarray, data handwriting character, data terapi hepatitis dsb. Walau demikian, saya tidak berani menggunakan data di atas untuk riset saya, tanpa seizin professor yang memberikan akses tsb. kepada saya. Trust itu mahal harganya. Karena itu sejak pulang ke Indonesia, saya memikirkan tema yang saya rintis sendiri, independen dari tema yang selama ini saya lakukan, agar saya punya kebebasan dalam melakukan penelitian. Perjalanan mencari tema itu cukup lama, sampai akhirnya saya sampai di 2 tema besar : malaria & biometrics. Saya buat roadmapnya, mana long term objectivenya dan mana yg short term. Dasarnya tetap pattern recognition, spesialisasi yg saya tekuni di Jepang.
Kembali ke urutan author, saya pernah diminta untuk menulis paper (invited) atas studi yg saya lakukan. Tetapi oleh society, diminta yang menjadi first author adalah pembimbing saya. Akhirnya paper tetap saya tulis walaupun agak sedih, karena hilang kesempatan sbg first author. Di luar dugaan, saat saya menghadap pembimbing untuk memberikan laporan akhir, beliau mengatakan ke saya : “To, urutan penulis ini harap dibalik. Kamu jadi yang pertama. Saya sudah tidak butuh jadi penulis pertama lagi”. Fairness. Itu yang diajarkan sensei kepada saya. Adil, walaupun kepada murid sendiri.
Selama ini saya berusaha menjalankan apa yang diajarkan guru-guru saya selama ini. Kepada murid-murid saya, saya selalu berikan kesempatan untuk jadi 1st author. Memang ada resiko saya akan mendapatkan nilai kredit yang rendah (karena sistem di Indonesia), atau nol, hilang sama sekali kesempatan mendapatkan nilai kredit. Bagi saya, hal itu tidak mengapa, karena tujuan saya menulis paper bukan untuk mengejar professorship, bukan untuk mendapatkan KUM atau nilai kredit. Tetapi saya menulis lebih karena tanggung jawab saya sbg scientist, dan juga hobby saya untuk belajar & berkomunikasi lewat tulisan. (Kemarin saya baru saja dengar, seorg doktor yang enggan menulis paper lagi karena peraturan yg ada membuat ybs kehilangan kesempatan menjadi professor. Dalam hati saya berkata, lho…emang bapak selama ini menulis paper hanya buat jadi professor ta ? ).
Selama memang kontribusinya besar, saya akan berusaha menjadikan murid saya 1st author. Kebahagiaan besar bagi seorang dosen jika melihat anak didiknya maju. Tapi pernah juga saya menuntut apa yang mestinya jadi hak saya. Misalnya di paper saya ttg terapi interferon yg diterbitkan di Springer, atas kesepakatan bersama, akhirnya permintaan saya disetujui : ditulis bhw penulis pertama dan penulis kedua berkontribusi sama besar dalam studi yg dilakukan. Saya saat itu sbg 2nd author.
PS:
  1. Urutan author adakalanya berdasarkan abjad authornya, misalnya paper di Physical Review D
    https://asnugroho.wordpress.com/2010/04/17/jumlah-konvensi-urutan-author-sebuah-paper/

 

Dipublikasi di research | Meninggalkan komentar

Periksa Darah : Kolesterol

Atas rekomendasi bu dokter yg menangani syaraf saya, hari ini saya periksa darah di lab. Yang diukur adalah:
  1. Hematologi Rutin 5 Diff: Lekosit, Eritrosit, Hemoglobin, Hematokrit, Trombosit, Netrofil, Limfosit, Monosit, Eosinofil, Basofil, MCV, MCH, MCHC, MPV, HFLC%
  2. Kimia Klinik : Kreatinin, Kolesterol LDL, Trigliserida, Asam Urat
Total ada 19 angka yang yang diukur. Oh ya ditambah suhu badan 35.2 C, dan tensi (124/77 pulse 83), total 23 angka. Saya kadang berfikir takjub. Deretan angka itu menceritakan kondisi kesehatan saya setelah hampir setahun di-treatment, setelah kena stroke ringan setahun yang lalu. Alhamdulillah kata dokter, hasilnya bagus. Memang ada sedikit yang lebih rendah, dan satu yang tinggi. Tapi tidak perlu dikhawatirkan. Masih normal. Ada satu yang jadi perhatian beliau, yaitu Kolesterol LDL. Hasil ukur : 123 mg/dL. Memang masih dalam batas normal, yaitu 52.0-164.0. Tetapi bagi orang yang terkena stroke, sebaiknya di bawah 70. Jadi saya diberi obat untuk menurunkan LDL tersebut. Pengukuran secara teratur bagi saya sangat penting. Sebagaimana waktu tinggal di Jepang, kami (dosen) selalu diukur setahun sekali (sekali apa dua kali ya ? sudah lupa). Angka yang diperoleh memotret kondisi kita, menginformasikan kesehatan kita dalam angka.
Dipublikasi di kesehatan | Meninggalkan komentar