Foto dan nama saya dibajak

Seorang sahabat memberi tahu kalau foto saya dibajak oleh suatu website dan diberi nama “Wawan”. Alamat website tersebut dapat dilihat di sini.  Foto yang dibajak adalah sbb.

Screen Shot 2019-04-09 at 19.07.45.png

 

Iklan
Dipublikasi di gado-gado | Meninggalkan komentar

Dua potong jeruk

56196669_10157048262929477_6445204731001307136_nMenjelang berangkat ke stasiun Solo Balapan. “Pak, ini buat di jalan”, kata Alya. Saya buka ternyata, diberi bekal oleh Alya, jeruk yang sudah dikupas 2 butir. Saya terharu, karena awalnya menolak jeruk agar tidak repot. Oleh Alya kemudian dikupaskan, tapi dibungkuskan 2 dalam tissue agar saya tidak repot membawanya.

Sama terharunya dengan ketika membaca sepucuk surat dari Tika. Cerita bagaimana dia kadang jengkel kalau nilainya tidak seperti yang diharapkan. Padahal Tika ingin bisa membahagiakan bapak dan ibu. Aduh, Nduk. Bagi bapak dan ibu, asal kalian sudah berusaha sekuatnya, sebaik-baiknya, itu sudah cukup membahagiakan bapak dan ibu.

Cinta dan kebahagiaan itu sederhana, seperti dua potong jeruk

Dipublikasi di keluarga | Meninggalkan komentar

Rekam biometrik saat akan umrah

Sore ini saya membaca berita di detik mengenai kebijakan biometrik.  Saya ingat, beberapa rekan saya menanyakan kebijakan biometrik untuk umrah. Saya jelaskan sebatas yg saya ketahui dari media massa. Perekaman dilakukan oleh Visa Facilitation Services (VFS) Thaseel. Proses perekaman biometrik itu sebenarnya sederhana.  Tapi repotnya penduduk kita tersebar di berbagai pulau dengan kondisi geografis yang tidak mudah untuk melakukan perekaman  itu, apalagi lokasi perekaman terbatas.  Mestinya sih, asal sudah punya KTP-el, dengan informasi NIK-nya, raw image sidik jari bisa langsung “diberikan” oleh Dukcapil ke VFS Thaseel. Tentunya dengan asumsi sudah ada kerjasama dengan Dukcapil untuk pemanfaatan data biometrik penduduk. Memang ada masalah lain yang timbul, yaitu pemindaian dengan sensor sidik jari yang (mungkin sekali) berbeda dengan sensor yang dipakai oleh VFS Thaseel. Perbedaan sensor ini akan berdampak juga pada akurasi pemadanan sidik jari. Idealnya sidik jari dipindai dengan sensor yang sama, agar bisa memperoleh citra sidik jari yang kualitasnya sama/setara. Selain itu, proses pemberian data biometrik itu juga rentan untuk disalahgunakan. Apalagi data sidik jari merupakan privasi penduduk yang harus dilindungi oleh negara.

Dipublikasi di research | Meninggalkan komentar