Rekam biometrik saat akan umrah

Sore ini saya membaca berita di detik mengenai kebijakan biometrik.  Saya ingat, beberapa rekan saya menanyakan kebijakan biometrik untuk umrah. Saya jelaskan sebatas yg saya ketahui dari media massa. Perekaman dilakukan oleh Visa Facilitation Services (VFS) Thaseel. Proses perekaman biometrik itu sebenarnya sederhana.  Tapi repotnya penduduk kita tersebar di berbagai pulau dengan kondisi geografis yang tidak mudah untuk melakukan perekaman  itu, apalagi lokasi perekaman terbatas.  Mestinya sih, asal sudah punya KTP-el, dengan informasi NIK-nya, raw image sidik jari bisa langsung “diberikan” oleh Dukcapil ke VFS Thaseel. Tentunya dengan asumsi sudah ada kerjasama dengan Dukcapil untuk pemanfaatan data biometrik penduduk. Memang ada masalah lain yang timbul, yaitu pemindaian dengan sensor sidik jari yang (mungkin sekali) berbeda dengan sensor yang dipakai oleh VFS Thaseel. Perbedaan sensor ini akan berdampak juga pada akurasi pemadanan sidik jari. Idealnya sidik jari dipindai dengan sensor yang sama, agar bisa memperoleh citra sidik jari yang kualitasnya sama/setara. Selain itu, proses pemberian data biometrik itu juga rentan untuk disalahgunakan. Apalagi data sidik jari merupakan privasi penduduk yang harus dilindungi oleh negara.

Iklan
Dipublikasi di research | Meninggalkan komentar

Diproteksi: Evaluasi 2018

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

Dipublikasi di research

Mengikuti ICPR 2018 di Beijing

International Conference on Pattern Recognition (ICPR 2018) adalah salah satu top conference di bidang Pattern Recognition, yang diselenggarakan tiap 2 tahun sekali. Tahun ini diselenggarakan di Beijing, sedangkan 2020 akan diselenggarakan di Milano Italy, 2022 di Montreal Canada. Pada penyelenggaraan tahun ini, ada hal yang spesial bagi Indonesia. Yaitu keputusan Governing Board untuk menerima Indonesia yang diwakili oleh Indonesian Association for Pattern Recognition (INAPR) sebagai anggota resmi International Association of Pattern Recognition (IAPR). Satu hal yang sangat saya syukuri, karena saya mendapat izin  dan pendanaan untuk hadir di Beijing 20-24 Agustus 2018. Yaitu dengan dana Pusat Unggulan Iptek (PUI), dari Kemenristekdikti.

Saya tulis beberapa pengalaman saya selama konferensi tersebut, tentunya dengan bahasa informal 🙂

PS: secara bertahap tulisan ini akan dilengkapi dengan catatan yang saya buat selama konferensi berlangsung

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di research, trip report | Meninggalkan komentar