Catatan Perjalanan ke Sumba 2015

Tahun ini saya mendapat kesempatan untuk ke Sumba dalam rangka penelitian yang didanai oleh SINas KNRT. Sebelumnya  saya pernah ke Sumba juga dua tahun yang lalu dan laporannya dapat dibaca di https://asnugroho.wordpress.com/2013/09/28/catatan-perjalanan-ke-sumba/ Pada kesempatan ini, saya berkeinginan menguji kinerja dari sistem deteksi Malaria yang kami kembangkan, dari citra mikroskopis apusan tebal darah. ( catatan ini belum selesai dan masih terus dilengkapi )

9 November 2015   beli obat untuk mencegah Malaria

Sesuai anjuran Dr. Tonang, saya membeli obat untuk mencegah Malaria yang harus dikonsumsi sejak seminggu sebelum berangkat, sampai satu minggu sesudah kembali. Saat saya beli di apotek, ibu apotekernya memandang saya dengan pandangan mata yang aneh dan bertanya agak ragu “sudah biasa pakai Doxycycline, Pak ?”
Saya juga gak terlalu pedulikan raut wajah si ibu, dan lempeng saya jawab “Iya, ..saya mau ke NTT”. “Oh ya sudah…” kata si ibu. Dan saat menyerahkan 25 butir doxycycline, mbak yang di belakgn beliau terdengar agak berbisik “semoga cepat sembuh” Jadi kepikiran, kenapa koq begitu ya. Belakangan saya baru tahu, ternyata….selain untuk anti malaria, doxycycline juga dipakai sebagai obat penyakit kelamin GO. Oalaaah…pantes (^^;

Senin, 16 November 2015

Berangkat dari Jakarta dengan GA 402 pk.07.50. Satu deret isi 8 kursi, saya duduk di 47F.  Mikroskop dibawa ke lapangan, packingnya dibantu p Made & b Vitri. Gak berani ditaruh di bagasi, jadi ditenteng ke kabin. Lumayan olahraga angkat beban 10 kg 😀 Sampai di bandara Denpasar, turun kemudian naik lagi transit ke domestic departure. Pesawat yg ke Tambolaka relatif kecil, tapi bukan baling-baling (Garuda). Sepertinya koper mikroskop tidak muat di kabin pesawat yg ke Tambolaka, jadi nanti akan dititipkan ke pramugari agar disimpan di bagasi dan diberikan saat kami turun tangga.

koper

Koper isi mikroskop

Beberapa bulan terakhir, Malaria agak menurun karena musim kemarau. Saat ini sudah mulai turun musim hujan, dan kemungkinan akan naik intensitasnya. Mikroskop rencananya akan ditaruh di kantor Eijkman, Selasa & Rabu kami akan turun ke lapangan.

PS:
STOPMiP: Intermittent Screening and Treatment Or intermittent Preventive therapy for the control of Malaria in Pregnancy in Indonesia URL: http://www.controlled-trials.com/ISRCTN34010937/

Sumba Spirit (Spatial Repellent Intervention) : dengan tujuan mengetahui efektifitas pemakaian obat nyamuk dalam mengurangi wabah Malaria (http://apps.who.int/trialsearch/trial.aspx?trialid=ACTRN12612001102864)

14.30 WiTeng mendarat dg selamat di Tambolaka. Udara panas dan gerah. Mobil Eijkman menjemput ke bandara dan kami ke kantor dulu, untuk menaruh mikroskop, baru ke hotel

Selasa, 17 November 2015

Pagi ini sangat cerah. Rencananya pk.8 pagi dijemput P Lipu, dan kami mengunjungi base camp yang ada di pedalaman (Wallandimu). Dari kantor Eijkman perlu waktu sekitar 1.5 jam dengan jarak tempuh sekitar 30 km. Di base camp ada 2 orang microscopist: Martha & Wajiyo, tapi Martha sedang tidak masuk. Di tempat tsb. saat ini dilakukan pasive monitoring. Pasien yang datang, diperiksa. Jika ada keluhan, baru diambil darahnya sbg sampel. Pada fase sebelumnya, yaitu fase aktif, seluruh pasien yang datang diambil darahnya (pasien: balita).

Dalam kegiatan ini sampel darah diambil dari balita (6 bulan ke atas). Teorinya bayi lebih jarang terkena Malaria karena berada di rumah. Sedangkan orang dewasa lebih tingi probabilitasnya terkena Malaria karena banyak melakukan aktifitas, baik di dalam maupun di luar ruangan. Nyamuk anopheles betina biasanya keluar di malam hari. Namun demikian adakalanya yang keluar di siang hari. Penjelasan mengenai project ini dapat dilihat di website LBME :  http://www.eijkman.go.id/units/malaria-vector-resistence/activities/spatial-repellent-products-for-the-control-of-vector-borne-diseases/

Kebanyakan plasmodia yang ada di Sumba Barat Daya : falciparum dan vivax. Malariae kadang-kadang ada. Tapi kalau ovale tidak ada. Ovale kebanyakan ditemukan di Papua.

Fase yang menarik dalam penelitian adalah saat berbekal pengetahuan yg dipelajari di lab, kemudian melihat dan membandingkan dg kondisi riil di lapangan dengan segala kompleksitas dan “pesona”-nya.

Pagi ini kami belajar dg Pak Wajiyo yang sudah 40 tahun bekerja sbg microscopist di Sumba, & dr. Agustinus Silaban yg bertugas di Base Camp Lembaga Eijkman di pedalaman. Ada gap yang sangat besar antara teori yg tertulis di panduan dari WHO dengan situasi di lapangan dengan slide yang sangat beragam kualitasnya. Banyak pengetahuan tak tertulis yang harus kami fahami, agar sistem yg dikembangkan benar-benar sesuai dg requirement-nya.

base.jpg

Di depan base camp Wallandimu

wajiyo-2.jpg

Dengan Pak Wajiyo, Pak Lipu, mas Eko, saya dan dr. Agus

wajiyo-1.jpg

mendapat penjelasan tentang apusan darah kualitas lapangan dari pak Wajiyo

Microscopist  biasanya mengamati thick blood smears. Kalau ragu dalam menentukan spesies, baru mengamati thin blood smear. Yang diamati selain positif vs negatif, juga spesies maupun fasenya (ring, thropozoit, schizont, gametosit). Kalau falciparum kebanyakan yg teramati : ring & gametosit. Kalau vivax: ring, thropozoit. Yg dominan di vivax : thropozoit. Untuk membedakan antara falciparum vs vivax. Banyaknya bidagn pandang yg diamati pada thick blood: 200 dg waktu 3-5 menit. Kalau positif, baru dihitung kepadatan parasit-nya.

Siang hari, setelah mengunjungi base camp di Wallandimu, kami kembali ke kantor Eijkman yang dipakai untuk project “Sumba Spirit”, project konsorsium yang didanai oleh Bill Gates. Saya mulai membongkar koper isi mikroskop dan setting di meja. Setelah selesai setting, dan akan menyambungkannya dengan laptop, baru sadar kalau saya lupa membawa kabel power ! Untung di kantor saya bisa meminjam kabel power untuk sementara waktu. Minyak imersi juga ketinggalan di lab. Serpong. Selotip dan gunting ternyata juga harus dibawa, untuk packing kelak. Dalam kondisi spt ini, kita perlu asumsikan semua serba mandiri, tidak menggantungkan pada peralatan di tempat lain, karena adakalanya peralatan yg ada dibawa ke lapangan. Satu pelajaran bagi kami, bhw saat membawa peralatan keluar lab. harus membuat check list alat apa saja yang sudah dimasukkan agar tidak ada yang tertinggal.

Setelah setting selesai, akhirnya lega sekali saat gambar apusan darah bisa muncul di layar monitor. Dengan slide kualitas lapangan akhirnya saya bisa memperoleh data yang diperlukan untuk melanjutkan penelitian ke tema-tema yang menarik. Sampai pk.5 sore, saya berhasil memperoleh 100 foto apusan tebal dari 2 slide. Kedua-duanya sudah dipastikan microscopist kalau positif Malaria (Pf). Selain slide P.falciparum, saya juga akan mencari slide yg berasal dari sampel darah terinfeksi P.vivax. Dari hasil pengamatan sementara ada beberapa masalah yg saya temukan pada sistem kita: (1) Lensa mikroskop kotor. Sepertinya yg kotor : okuler-nya, sehingga timbul bercak-bercak seperti kaca mobil kehujanan yang sudah mengering. Untuk mengatasi hal tsb. saya capture satu foto dalam kondisi tanpa slide untuk memastikan, bercak ada di mana saja. Nantinya gambar dalam kondisi tsb. dipakai untuk mengurangi (image substraction) image yang dicapture, sehingga dg demikian noise yg ikut terfoto bisa dihilangkan. (2) Akurasi sistem kurang bagus. Sepertinya sensitifitasnya rendah. Banyak bintik-bintik parasit yang tidak terdeteksi sbg parasit (FN tinggi). Saya kira hal ini karena masalah tuning parameter saja. Perlu difikirkan untuk membuat fitur tuning sebelum sistem dipakai, karena kondisi tiap slide berbeda-beda. Ataukah membuat fitur tuning otomatis yg akan beradaptasi sendiri untuk kondisi slide yg berbeda ? Perlu dikaji lebih lanjut kelak.

eijkman-01

eijkman-02

Sekitar pk.3 sore, Pak Din (Prof. Din Syafrudin) datang di kantor (lab. lapangan). Beliau rencananya akan di sini sampai hari Jumat yad.

Hari Rabu ini kami rencananya akan ke arah barat, mengunjungi site penelitian Eijkman di pedalaman. Saya berharap dapat memperoleh gambaran lebih jelas ttg penelitian Malaria yg dilakukan oleh Eijkman. Kalau slide sih sudah ada di kantor. Tinggal duduk dan meluangkan waktu untuk mengambil data.

Rabu, 18 November 2015

dien

Makan pagi dg Pak Din dan mas Eko

Hari ini saya ngobrol dan belajar ttg entomology, dg Clauss Bogh. Clauss adalah ahli tentang nyamuk (Entomology). Studinya mengamati perilaku nyamuk. (Di Indonesia, ahli ttg Entomology nyamuk sudah sangat langka. Mungkin susah terbayangkan, sepanjang hayat koq menekuni nyamuk ). Dari pengamatannya, di Sumba ada 2 spesies yang diketahui sangat bagus sebagai vektor plasmodia (carrier, pembawa parasit) : Anopheles sundaicus & Anopheles vagus. Mereka bisa dibedakan dari ciri pada sayap, sungut, kaki dan berbagai bagian tubuhnya. Lebih dari 90% vector di Sumba adalah Anopheles sundaicus (“Ini adalah vector yang excellence !”, katanya dengan bersemangat.), yang memang paling menyukai menggigit manusia. Sedangkan Anopheles vagus lebih menyukai sapi, walaupun mereka kadang menggigit manusia juga. Spesies vector di Sumba berbeda dengan di Papua, Afrika maupun tempat yang lain. 

Human Landing Capture (HLC) adalah teknik pengumpulan sampel nyamuk dengan mengumpankan anggota badan. Apabila nyamuk hinggap, diamati dulu jenisnya. Apabila anopheles baru ditangkap dengan alat penghisap. Ciri khas anopheles betina, waktu hinggap dan menggigit posisinya menungging. Sedangkan aedes cenderung lebih datar. Selain cara hinggap, juga panjang sungut dan berbagai karakteristik lain perlu dilihat dulu, dipastikan bahwa nyamuk itu benar-benar anopheles betina, baru ditangkap. Teknik pengumpulan sampel ini mengandung resiko tinggi, karena rawan terkena Malaria.

Hari ini kami kami ke lapangan, ke salah satu cluster tempat penelitian rekan-rekan Eijkman dilakukan. Akhirnya saya bisa mengikuti dari awal, bagaimana data itu diperoleh dari lapangan.

interview.jpg

Suasana interview dengan anak yang dipantau kondisinya

Malam hari kami makan malam di RM Gula Garam. Alhamdulillah… sesekali ganti menu. Dua malam berturut-turut mie rebus dg telor. Malam ini sup buntut. Pak Din cerita ttg Tokoro-sensei, peneliti di Kanazawa yg rutin mengajak murid-muridnya untuk riset lapangan di Sumba. Mereka mengutak-atik meneliti faeces (kotoran) dari penduduk, diteliti kandungan parasit yang tercampur di dalamnya. Setelah kegiatan seharian, tiap malam tiap mhsw-nya diminta presentasi hasil risetnya hari itu, walaupun mungkin sambil terkantuk-kantuk. Yang namanya passion memang kadang susah difahami.

 

 

Kamis, 19 November 2015

Hari ini ke Sumba Barat melihat lokasi penelitian Eijkman yang lain, sekitar 40 km. Badan saya mulai terasa nggak nyaman. Batuk juga makin kencang. Akhirnya sekitar pk.2 siang saat sudah kembali ke hotel, saya minta dicarikan tukang pijat. Sepertinya badan saya kurang istirahat, dan perlu supply vitamin, padahal saya tidak membawa vitamin. Makan juga susah masuk (^^;   Akhirnya saya banyak-banyak mengkonsumsi buah dan jus agar tetap ada yang masuk ke badan.

peta.jpg

Posisi kami menurut google maps

 

adat

Rumah adat penduduk Sumba. Kebanyakan mereka masih menganut kepercayaan asli yang disebut Merapu

19.54 kecapekan saat mencoba membaca slide lapangan. Dg density rendah, sulit sekali menemukan parasit di belantara apusan darah.
Jadi terasa benar, betapa sulitnya memperoleh data yg bagus untuk eksperimen. Perlu dana & upaya besar yg melelahkan untuk akhirnya bisa memperoleh data tsb. Jadi kalau ada yg kirim email minta dicopy-kan data-data yg diperoleh untuk dipakai ybs di studinya, rasanya gimana gitu.

Jumat, 20 November 2015

Mendarat di Soetta pk.15.30, menyerahkan koper isi mikroskop ke mas Hari yg menjemput di bandara untuk dibawa kantor, dan melanjutkan perjalanan pindah terminal 3, menunggu pesawat ke Solo pk.19.30. Baju sudah basah kuyup oleh keringat.

Sabtu, 21 November 2015

Jam 7 pagi, dipijat lagi di rumah untuk keduakalinya dalam seminggu. Usia memang tak bisa menipu…hehe

Iklan

Tentang Anto Satriyo Nugroho

My name is Anto Satriyo Nugroho. I am working as research scientist at Center for Information & Communication Technology, Agency for the Assessment & Application of Technology (PTIK-BPPT : Pusat Teknologi Informasi & Komunikasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). I obtained my doctoral degree (Dr.Eng) from Nagoya Institute of Technology, Japan in 2003. My office is located in Serpong, Tangerang Selatan City. My research is on pattern recognition and image processing with applied field of interests on biometrics identification & development of computer aided diagnosis for Malaria. Should you want to know further information on my academic works, please visit my professional site at http://asnugroho.net
Pos ini dipublikasikan di trip report. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s